Pacaran tanpa bacstreet itu
melegakan, menyenangkan, gak bikin nyesek, gak bikin kita banyak dosa karna
bohong kalo mau keluar, gak perlu sembunyi-sembunyi untuk nyebut “dia pacar
saya” di depan keluarga atau di depan umum, dan lebih senengnya lagi kalau secara
terang-terangan ortu bilang kalau kita “direstuin” (hehehe).
Dan itu yang aku alami sekarang.
Pacaran tanpa backstreet sekaligus direstuin. Walaupun gak backstreetnya cuma
dari pihak aku (Karna Irzam belum bisa ngenalin aku sama keluarganya. Dan aku
memaklumi itu. Katanya kalo dikenalinnya sekarang ndak dikira pengen cepet-cepet kawin -,-)
tapi buat aku itu satu poin lebih dalam hubungan ini.
Irzam itu bukan tipe cowok
ngguanteng dan super keren (tapi bagiku dia bagus, manis, gagah. :v), tapi
ibuku bilang, justru kalo cari pacar atau suami itu nggak usah yang
ngganteng-ngganteng, yang biasa aja yang penting baik, rajin solat, pinter,
kalem, tanggung jawab. Dan sepertinya Irzam masuk dalam kategori cowok yang
dikriteriain ibuku buat jadi pacar anaknya ini. Makanya pas Irzam maen ke rumah
sekaligus nembak aku, terus aku nanya ke ibu boleh pacaran sama dia apa enggak,
ibu langsung bilang oke. Padahal itu pertama kalinya Irzam kerumah, tapi ibuku
seperti oke-oke aja kalau aku jalan sama Irzam. Hosh… amanlah aku. Hehe ^^v
Karna statusnya terang-terangan,
ibuku juga kadang nanyain gimana kabarnya Irzam, atau kabar hubunganku sama
dia, baik-baik aja apa enggak. Terus pas kemarin Irzam maen ke rumah dan aku
pake baju gak jelas juga dikomentarin. Maksudnya biar aku lebih sopan lagi kalo
nemuin Irzam. Kata ibuku, “Orang Irzamnya udah rapi begitu kamu malah pake
baju, bajunya orang masak. Ya kasian dianya dong..” (yang bikin aku sebel
dengan nasehat ibu ini adalah… ibu bilang gitu bukannya pas Irzam di rumah.
Tapi pas Irzam udah pulang. Sama aja gak ada manfaatnya lah. Bikin aku galau
aja. -_-). Terus kadang kalo aku sama ibu lagi berdua di kamar, ibu suka
ngebahas tentang pekerjaannya si Irzam kalo nanti dia udah kerja. Ibu suka
nasehatin kalo punya suami kaya Irzam itu harus siap buat ditinggal-tinggal,
gak setiap hari di rumah, jarang ketemu soalnya Irzam itu pekerja lapangan
(kayak aku udah beneran mau nikah sama dia aja gitu.. -_-), dan lain hal yang
gak penting tapi intinya ibu itu perhatian sama aku, Irzam dan hubungan kita.
Namun dan akan tetapi,, Restu dan
izin serta kalimat dukungan yang diberikan ibu itu gak cuma bikin aku seneng,
tapi sekaligus bikin aku takut juga (jujur sejujurnya). Soalnya, kalo ibu udah
bilang yes/setuju/gak masalah/tak dukung dan lain sebagainya itu berarti ibu
udah percayain aku buat Irzam.
Yang bikin aku takut adalah,
karna kita ini hanyalah seorang makhluk yang bahkan tidak punya kuasa atas diri
kita sendiri. Kita nggak tahu sama apa yang akan kita alami. Jodoh, maut, rizki
itu sudah ada yang ngatur. Aku tahu, harusnya aku nggak suudzon sama Allah, gak
perlu memusingkan soal takdir yang dimana takdir itu tidak bisa kita ubah
seperti jodoh, karna Allah itu Maha Tahu yang pasti akan memberikan apa-apa
yang makhluknya butuhkan. Tapi sebagai manusia aku sendiri juga nggak bisa
melepaskan diri dari pikiran buruk tentang bagaimana kalo nanti Irzam punya
wanita lain yang lebih dia cintai kemudian dia ninggalin aku trus ibuku juga
ikut kecewa, atau gimana nanti kalo misalnya cobaan itu datang justru dari
keluarganya Irzam trus ibuku tahu dan ibuku juga ikut-ikutan terluka, atau kalo
ternyata Irzam itu gak sebaik dan setulus yang aku dan ibuku pikirin dan buat
ibuku gak respect lagi sama Irzam, dan beberapa hal buruk lainnya yang harusnya
gak aku pikirin karna itu belum terjadi. (Maklum ya… tukang nonton drama sama
sinetron alay… jadi kebawa parno -_-)
Ya Allah… maafkan aku yang suka
berpikiran buruk ini. Aku selalu berpikir bahwa kita tidak boleh terlena dengan
kebahagiaan yang ada di hadapan kita. Tapi aku bersyukur kepadamu Allah. Sangat
besyukur dengan keadaanku sekarang, sekaligus menjaga diri dari buaian indah
tentang kebahagiaan tanpa cela yang selalu ada dipikiranku ini Allah. Dan
caraku menjaga diri dari buaian itu salah satunya adalah dengan memikirkan
kemungkinan terburuk dari apa yang akan terjadi di masa yang akan datang jika
harapanku dan harapan ibuku tidak sesuai dengan yang kita impikan tentang aku
dan Irzam. Mungkin terkesan aneh. Tapi itu membuatku lebih baik dari pada aku
terlalu senang karena diberi kemudahan dalam menjalin hubungan dengan seseorang
kemudian harapanku tidak sesuai dengan yang diharapkan. :)
Sayang,, jika
kamu membaca tulisanku ini, apa yang kamu pikirkan..?? hehehe
Sayaang.. Aku berharap semoga
kamu sebaik yang aku dan ibuku serta keluargaku pikirkan. Dan semoga aku dan
keluargaku juga sebaik yang kamu pikirkan. Semoga kita berdua diberikan yang
terbaik. Kalau kita berjodoh semoga dimudahkan. Namun jika tidak semoga kita
diberi yang lebih baik dari apa yang kita dapat sekarang. Aku selalu berdoa
semoga hubungan kita ini bukan hubungan yang akan membuat kita saling menyakiti
nanti. Amin..
Love you Ir… :) :*











