Senin, 02 September 2013

Aku, Restu, dan Ketaklutan Alayku


Pacaran tanpa bacstreet itu melegakan, menyenangkan, gak bikin nyesek, gak bikin kita banyak dosa karna bohong kalo mau keluar, gak perlu sembunyi-sembunyi untuk nyebut “dia pacar saya” di depan keluarga atau di depan umum, dan lebih senengnya lagi kalau secara terang-terangan ortu bilang kalau kita “direstuin” (hehehe).

Dan itu yang aku alami sekarang. Pacaran tanpa backstreet sekaligus direstuin. Walaupun gak backstreetnya cuma dari pihak aku (Karna Irzam belum bisa ngenalin aku sama keluarganya. Dan aku memaklumi itu. Katanya kalo dikenalinnya sekarang ndak dikira pengen cepet-cepet kawin -,-) tapi buat aku itu satu poin lebih dalam hubungan ini.

Irzam itu bukan tipe cowok ngguanteng dan super keren (tapi bagiku dia bagus, manis, gagah. :v), tapi ibuku bilang, justru kalo cari pacar atau suami itu nggak usah yang ngganteng-ngganteng, yang biasa aja yang penting baik, rajin solat, pinter, kalem, tanggung jawab. Dan sepertinya Irzam masuk dalam kategori cowok yang dikriteriain ibuku buat jadi pacar anaknya ini. Makanya pas Irzam maen ke rumah sekaligus nembak aku, terus aku nanya ke ibu boleh pacaran sama dia apa enggak, ibu langsung bilang oke. Padahal itu pertama kalinya Irzam kerumah, tapi ibuku seperti oke-oke aja kalau aku jalan sama Irzam. Hosh… amanlah aku. Hehe ^^v

Karna statusnya terang-terangan, ibuku juga kadang nanyain gimana kabarnya Irzam, atau kabar hubunganku sama dia, baik-baik aja apa enggak. Terus pas kemarin Irzam maen ke rumah dan aku pake baju gak jelas juga dikomentarin. Maksudnya biar aku lebih sopan lagi kalo nemuin Irzam. Kata ibuku, “Orang Irzamnya udah rapi begitu kamu malah pake baju, bajunya orang masak. Ya kasian dianya dong..” (yang bikin aku sebel dengan nasehat ibu ini adalah… ibu bilang gitu bukannya pas Irzam di rumah. Tapi pas Irzam udah pulang. Sama aja gak ada manfaatnya lah. Bikin aku galau aja. -_-). Terus kadang kalo aku sama ibu lagi berdua di kamar, ibu suka ngebahas tentang pekerjaannya si Irzam kalo nanti dia udah kerja. Ibu suka nasehatin kalo punya suami kaya Irzam itu harus siap buat ditinggal-tinggal, gak setiap hari di rumah, jarang ketemu soalnya Irzam itu pekerja lapangan (kayak aku udah beneran mau nikah sama dia aja gitu.. -_-), dan lain hal yang gak penting tapi intinya ibu itu perhatian sama aku, Irzam dan hubungan kita.

Namun dan akan tetapi,, Restu dan izin serta kalimat dukungan yang diberikan ibu itu gak cuma bikin aku seneng, tapi sekaligus bikin aku takut juga (jujur sejujurnya). Soalnya, kalo ibu udah bilang yes/setuju/gak masalah/tak dukung dan lain sebagainya itu berarti ibu udah percayain aku buat Irzam.

Yang bikin aku takut adalah, karna kita ini hanyalah seorang makhluk yang bahkan tidak punya kuasa atas diri kita sendiri. Kita nggak tahu sama apa yang akan kita alami. Jodoh, maut, rizki itu sudah ada yang ngatur. Aku tahu, harusnya aku nggak suudzon sama Allah, gak perlu memusingkan soal takdir yang dimana takdir itu tidak bisa kita ubah seperti jodoh, karna Allah itu Maha Tahu yang pasti akan memberikan apa-apa yang makhluknya butuhkan. Tapi sebagai manusia aku sendiri juga nggak bisa melepaskan diri dari pikiran buruk tentang bagaimana kalo nanti Irzam punya wanita lain yang lebih dia cintai kemudian dia ninggalin aku trus ibuku juga ikut kecewa, atau gimana nanti kalo misalnya cobaan itu datang justru dari keluarganya Irzam trus ibuku tahu dan ibuku juga ikut-ikutan terluka, atau kalo ternyata Irzam itu gak sebaik dan setulus yang aku dan ibuku pikirin dan buat ibuku gak respect lagi sama Irzam, dan beberapa hal buruk lainnya yang harusnya gak aku pikirin karna itu belum terjadi. (Maklum ya… tukang nonton drama sama sinetron alay… jadi kebawa parno -_-)

Ya Allah… maafkan aku yang suka berpikiran buruk ini. Aku selalu berpikir bahwa kita tidak boleh terlena dengan kebahagiaan yang ada di hadapan kita. Tapi aku bersyukur kepadamu Allah. Sangat besyukur dengan keadaanku sekarang, sekaligus menjaga diri dari buaian indah tentang kebahagiaan tanpa cela yang selalu ada dipikiranku ini Allah. Dan caraku menjaga diri dari buaian itu salah satunya adalah dengan memikirkan kemungkinan terburuk dari apa yang akan terjadi di masa yang akan datang jika harapanku dan harapan ibuku tidak sesuai dengan yang kita impikan tentang aku dan Irzam. Mungkin terkesan aneh. Tapi itu membuatku lebih baik dari pada aku terlalu senang karena diberi kemudahan dalam menjalin hubungan dengan seseorang kemudian harapanku tidak sesuai dengan yang diharapkan. :)

Sayang,, jika kamu membaca tulisanku ini, apa yang kamu pikirkan..?? hehehe 
          
Sayaang.. Aku berharap semoga kamu sebaik yang aku dan ibuku serta keluargaku pikirkan. Dan semoga aku dan keluargaku juga sebaik yang kamu pikirkan. Semoga kita berdua diberikan yang terbaik. Kalau kita berjodoh semoga dimudahkan. Namun jika tidak semoga kita diberi yang lebih baik dari apa yang kita dapat sekarang. Aku selalu berdoa semoga hubungan kita ini bukan hubungan yang akan membuat kita saling menyakiti nanti. Amin..
Love you Ir… :) :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar